Showing posts with label jawa. Show all posts
Showing posts with label jawa. Show all posts

Friday, June 26, 2015

madakaripura air terjun paling perpect

Air terjun Madakaripura terkenal dengan legendanya yaitu sebagai air terjun tempat Gajah Mada bersemedi. Selain itu, penampakannya yang cantik membuatnya begitu fotogenik.

madakaripura-air-terjun-jawa.jpg


Mengunjungi air terjun Madakaripura adalah salah satu hal yang harus dilakukan oleh para penjelajah yang pergi ke Jawa Timur. Madakaripura bisa dicapai dari Malang ataupun Probolinggo. Konon di sinilah Gajah Mada bersemedi sebelum mengeluarkan Sumpah Palapa. Ketika tiba di lokasi, traveler akan ditawari memakai jasa guide lokal yang juga bisa membawakan tas carrier anda bila diperlukan.

Perjalanan dari sini ke air terjun sangat indah dan memanjakan mata dengan pemandangan pohon-pohon besar, udara yang segar dan juga melewati sungai-sungai. Sepatu yang kuat, tahan air ataupun sandal gunung sangat disarankan untuk perjalanan ini.

Perjalanan menempuh kurang lebih 1 jam ketika kemudian Anda merasakan dinginnya sekitar dan juga air yang meloncat-loncat ke tubuh Anda. Maka dari itu, baju ganti, jas hujan ataupun payung sangat disarankan. Bahkan saya sempat bingung karena ada yg menyediakan jasa penyewaan payung. Saya pikir buat apa payung?toh biasanya kalau ke lokasi air terjun, airnya tidak sampai membasahi badan. Tapi ternyata di Madakaripura beda!

madakaripura-air-terjun-bromo-jawa.jpg


Untuk menuju air terjun utama, kita akan melewati jalur yang lumayan sempit tepat berada dibawah air terjun kecil yang terlihat seperti selendang yang terjulur kebawah. Ditambah lagi bagi traveler yang ingin memotret disana, terpaan angin yang membawa air akan membasahi kamera traveler jika tidak dilindungi dengan payung. Memang akan lebih baik jika traveler menggunakan rain cover untuk kameranya.

Nah bagi traveler yang ingin berkunjung ke Jawa Timur khususnya ke Bromo, sempatin deh untuk melihat pemandangan menakjubkan air terjun Madakaripura.

Sumber : http://travel.detik.com

Thursday, June 25, 2015

ranu kumbolo danau di lereng gunung yang eksotis

Ranu Kumbolo adalah salah satu primadona Gunung Semeru, Jawa Timur. Berada di ketinggian 2.400 mdpl, Ranu Kumbolo tersohor karena kecantikan, kesejukan, dan dingin air danaunya. Sunrisenya pun sempurna!

Bagi para pendaki gunung, Semeru merupakan gunung favorit dan menarik untuk dijelajah. Gunung Semeru terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Salah satu pesona yang ditawarkan Semeru adalah Danau Ranu Kumbolo yang cantik. Danau yang unik, karena letaknya di lereng gunung.

ranu-kumbolo-semeru.jpg


Ranu Kumbolo berada di ketinggian 2.400 mdpl, serta menjadi tempat peristirahatan dan berkemah bagi para pendaki. Akan tetapi, menuju danau ini bukanlah perjalanan yang mudah. Anda harus berjalan selama 4-5 jam dan melewati medan yang menantang. Perjalanan yang cukup menguras stamina.

Setibanya di Ranu Kumbolo, rasa lelah seolah impas dengan pesona yang akan Anda rasakan. Pemandangan di sekitar danau sangat meneduhkan mata. Perpaduan pohon cemara, semak-semak yang hijau, dan langit yang biru, menjadi refleksi tersendiri. Tak ketinggalan, pesona Ranu Kumbolo akan mencuri hati Anda!

Ranu Kumbolo seolah oase yang menyegarkan. Perpaduan alam yang hijau dan segarnya pemandangan danau, dijamin akan melepas segala jenis rasa penat Anda. Ditambah suasana yang dingin dan sejuk, Ranu Kumbolo pantas disebut sebagai tempat yang sempurna untuk bersantai.

Tidak hanya itu, sunrise di Ranu Kumbolo akan menambah rasa kagum Anda. Panorama matahari terbitnya sangat cantik dan mempesona. Warna cahaya mentari yang keemasan terpantul oleh permukaan danau.

ranu-kumbolo-semeru-sunrise.jpg


Tidak ada yang membantah kecantikan sunrise di Ranu Kumbolo. Serta, tidak sedikit para fotografer yang mengabadikan pemandangan tersebut dalam kameranya masing-masing. Sunrise di Ranu Kumbolo akan menambah rasa kagum Anda pada ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa.

Berkunjunglah ke Ranu Kumbolo dan silahkan melepas penat di sana. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alamnya.

Sumber : http://travel.detik.com

Wednesday, June 17, 2015

alam surgawi di kebun raya cibodas

Indonesia beruntung dianugerahi alam hijau permai. Salah satu tempat yang mewakilinya adalah Kebun Raya Cibodas di Bogor, Jawa Barat. Berlokasi di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur, tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai konservasi tumbuhan tetapi juga menjadi tujuan wisata.

Kebun Raya Cibodas menyimpan koleksi tumbuhan dataran tinggi basah tropika, seperti pohon tusam, tumbuhan runjung, dan tumbuhan paku pegunungan. Tempat ini secara langsung berfungsi sebagai tempat pendidikan dan penelitian.

Kebun Raya Cibodas didirikan tahun 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann. Saat ini memiliki luas sekitar 125 hektar dengan topografi bergelombang dan berbukit-bukit di ketinggian 1.275 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara 17 - 27 derajat Celcius. Kondisi tersebut membuatnya berudara sejuk dan ideal menjadi rumah bagi tumbuhan dataran tinggi basah.

Kebun-Raya-Cibodas.png


Sebuah prestasi bagi kebun ini adalah ketika tahun 1977 UNESCO menetapkan Kebun Raya Cibodas sebagai satu dari enam cagar biosfer yang ada di Indonesia selain Tanjung Putting, Lore Lindu, Siberut, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman Nasional Komodo.

Kebun Raya Cibodas merupakan laboratorium alam dengan ilmu yang tiada habisnya.

Sampai saat ini Kebun Raya Cibodas dihuni lebih dari 320 jenis anggrek, 289 jenis kaktus, 22 jenis koleksi tanaman sukulen, dan 103 jenis tanaman paku-pakuan, semuanya meliputi 1.162 jenis koleksi kebun.

anggrek-bulan.jpg
"Apabila surga itu ada di muka Bumi maka Cibodas pastinya adalah bagian darinya." - Dr. F.W.Went (Fisiologi Tumbuhan asal Jerman)


Di sini Anda juga akan menemui tanaman Rhododendron Garden, Sakura Garden, Taxus Garden, dan koleksi tanaman eksotik lainnya. Tanaman yang ada sekitarnya meliputi 114 jenis di antaranya berasal dari Jawa Barat dan merupakan tanaman langka yang tidak bisa Anda temui di tempat lain.

Setiap tahunnya Kebun Raya Cibodas dikunjungi sekitar satu juta orang, mereka adalah wisatawan domestik dari Jakarta, Bandung, Bogor dan sekitarnya, serta wisatawan mancanegara. Keberadaan Kebun Raya Cibodas sebagai objek wisata telah menjadi tempat mendulang rupiah bagi para penjual bunga dan tanaman hias, perajin cenderamata, pengusaha makanan dan minuman, pengusaha penginapan dan hotel, serta biro perjalanan wisata.



Kebun Raya Cibodas, terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Cipanas, Cianjur. Topografi lapangannya bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian 1.275 m dpl, bersuhu udara 17 - 27 derajat Celcius. Wikipedia

Alamat: Jl. Kebun Raya Cibodas, Cipanas, Sindanglaya, Cianjur, Jawa Barat 43253, Indonesia

Provinsi: Jawa Barat

Fasilitas:
Rumah Paku-pakuan, Rumah Kaca, Pembibitan Anggrek, Sukulen, Kaktus, Air Terjun, Jalan Air, Tanam Tematik, Taman Lumut, Koleksi Tanaman Obat, Wisma Tamu, Kupel, Kafetaria, Mesjid, Penjualan Tanaman, Kuda Tunggang.

Sumber : http://www.indonesia.travel

Sunday, June 14, 2015

visit jawa tengah 2015 melalui lomba menulis di blog periode : 1 juni - 4 juli 2015

Cinta Indonesia - Akhir tahun lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah meluncurkan Central Java E-Tourism, yakni pemasaran pariwisata Jawa Tengah melalui teknologi digital. Salah satu produk E-Tourism tersebut diwujudkan dengan penyeleggaraan Lomba Blog Visit Jawa Tengah.
Lomba blog ini adalah sebuah lomba menulis yang mengangkat potensi wisata dan budaya Jawa Tengah. Lomba terdiri dari lomba utama dan lomba periodik dengan hadiah uang tunai jutaan rupiah dan trip gratis ke destinasi wisata di Jawa Tengah sebagai hadiah utama.

4-4juli-2015.jpg


Periode 1 berlangsung mulai 19 Januari - 14 Februari 2015
periode : 18 Mei - 13 Juni 2015 "Wisata Kuliner Jawa Tengah"
periode : 1 juni - 4 juli 2015 Tema "Cinta (Wisata) Jawa Tengah"

Periode lomba utama diselenggarakan pada Juni-Juli 2015, sementara lomba periodik diselenggarakan setiap bulan di tahun 2015.

PERIODE : 1 Juni - 4 Juli 2015, Dalam rangka Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke-65, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Lomba Utama Blog Visit Jawa Tengah. Lomba Blog Visit Jawa Tengah adalah lomba menulis yang mengangkat potensi wisata dan budaya Jawa Tengah melalui posting blog. Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum dengan Syarat & Ketentuan sebagai berikut :


  1. Lomba terbuka untuk umum dan setiap peserta lomba memiliki blog.
  2.  Peserta bebas menggunakan blog apapun (blogspot, wordpress, domain pribadi, dan lain-lain).
  3. Peserta wajib menjadi follower Twitter @VisitJawaTengah dan @BlogJateng2015.
  4. Kirim 1 (satu) buah tulisan berupa artikel dengan tema “Cinta (Wisata) Jawa Tengah”. Misalkan Destinasi Pariwisata Favorit di Jateng, Perilaku Sadar Wisata, atau tulisan lainnya yang menggambarkan kecintaan pada wisata di Jawa Tengah;
  5. Panjang tulisan minimal 500 kata.
  6. Tulisan belum pernah dipublikasikan atau tidak disertakan dalam lomba lainnya, serta tidak boleh melanggar hak kekayaan intelektual pihak manapun juga;
  7. Tulisan tidak boleh bermuatan politik dan SARA;
  8. Tulisan dipublikasikan di blog dengan periode antara tanggal 1 Juni - 4 Juli 2015;
  9. Tulisan adalah karya asli dan tulisan baru serta ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris;
  10. Peserta wajib memasang banner lomba di dalam postingan sebagai tanda keikutsertaan yang dapat diunduh di http://bit.ly/1FKx3hg
  11. Tweet judul dan shortlink tulisan dengan mention @VisitJawaTengah dan @BlogJateng2015 menggunakan hashtag #BlogJateng2015 & #VisitJateng;
  12. Pendaftaran dilakukan secara online melalui link berikut ini : http://goo.gl/forms/VgSVB9Xj5c
  13. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah berhak untuk menggunakan karya (postingan) pemenang dalam kompetisi ini untuk segala kepentingan promosi pariwisata/ budaya;
  14. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah berhak untuk menggunakan karya (postingan) pemenang dalam kompetisi ini untuk segala kepentingan promosi pariwisata/budaya.
  15. Isi tulisan di luar tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah;
  16. Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat;
  17. Para Pemenang bersedia membuat review tentang Atria Hotel & Conference - Magelang;
  18. Pengumuman pemenang : 7 Agustus 2015 melalui website central-java-tourism.com dan twitter @VisitJawaTengah @BlogJateng2015 serta akan dihubungi oleh pihak panitia;
  19. Kompetisi tidak berlaku untuk karyawan/ karyawati Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan keluarganya.


TEMA :
"Cinta (Wisata) Jawa Tengah"

HADIAH :

JUARA 1
- Uang Tunai Rp 2.000.000,-
- Modem + Merchandise Visit Jawa Tengah
- Paket Wisata 3D2N bersama ASPPI Jawa Tengah
- Voucher Tiket Garuda Indonesia Semarang - Denpasar - Semarang
- Voucher Atria Hotel and Conference - Magelang

JUARA 2
- Uang Tunai Rp 1.500.000,-
- Modem + Merchandise Visit Jawa Tengah
- Paket Wisata 3D2N bersama ASPPI Jawa Tengah
- Voucher Atria Hotel and Conference - Magelang

JUARA 3
- Uang Tunai Rp 1.250.000,-
- Modem + Merchandise Visit Jawa Tengah
- Paket Wisata 3D2N bersama ASPPI Jawa Tengah
- Voucher Atria Hotel and Conference - Magelang

*Pajak Hadiah ditanggung Pemenang

Candi-Barabudhur-JaTeng.png


Informasi selengkapnya dapat dilihat di laman: Website: www.central-java-tourism.com
atau
Twitter : @BlogJateng2015 atau @VisitJawaTengah

Thursday, June 11, 2015

candi dan sejarahnya di yogyakarta

Cinta Indonesia - Dinasti besar di Nusantara pada kurun waktu sekitar tahun 750-850 Masehi ada dua dinasti besar yang mendiami Pulau Jawa bagian tengah yang sekarang kita kenal dengan Jawa Tengah. Wilayah ini ada dua wangsa yang dominan memerintah silih berganti, Yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Wilayah tengah Jawa bagian utara dikuasai Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, sedangkan wilayah tengah Jawa bagian selatan dikuasai Wangsa Syailendra yang beragama Budha.

Dua kekuatan dinasti besar tersebut telah membuat cand-candi yang ada di kedua wilayah ini mempunyai dua corak yang sangat berbeda satu sama lainnya. Kedua Dinasti besar ini akhirnya dipersatukan dengan sebuah pernikahan antara Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya dan Pramodawardhani Putri dari Maharaja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Pernikahan tersebut terjadi pada sekitar tahun 838-851 Masehi.

Candi-Banyuniba-Yogyakarta.png


Kerajaan Mataram Hindu yang pernah berjaya di wilayah selatan Jawa Tengah, yang saat ini menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak percandian yang bercorak Hindu dan sebagian kecil candi bercorak Budha. Sepeninggal Raja Sana dari Dinasti Sanjaya tampuk kepemimpinan Kerajaan Mataram dilanjutkan oleh Rakai Pikatan seorang pangeran dari Dinasti Sanjaya.

Sejak Rakai Pikatan naik tahta, Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan Agama Buddha yang dominan di wilayah tengah Jawa bagian selatan. Kekuasaan Rakai Pikatan mengakhiri dominasi Budha di wilayah Mataram. Hal ini berpengaruh pada bangunan cand-candi yang ada dan dibuat di era Rakai Pikatan berkuasa di Bumi Mataram Hindu.

Pada tahun 920 yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu yaitu Raja Tulodong, pada masa ini dibangun sebuah candi besar yang monumental, sekarang kita kenal bernama Candi Prambanan. Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Pada masa ini, ditulis karya sastra Ramayana dalam Bahasa Kawi.

Candi candi yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta ada dua macam corak yaitu bercorak Hindu dan bercorak Budha, candi candi yang ada di wilayah yogyakarta sekarang ini sebagian besar terbuat dari batu andesit, hanya satu yang sekarang diketahui terbuat dari bata merah yaitu Candi Abang.

Bangunan percandian yang benuansa Budha antara lain Candi Kalasan, Candi Banyunibo, dan Candi Sari. Bangunan percandian yang bernuansa Hindu lebih dominan di wilayah Yogyakarta kemungkinan setelah Rakai Pikatan sebagai penguasa awal Mataram Hindu maka pembangunan candi dibuat oleh Pemerintahan Mataram Hindu.

Berikut candi-candi yang terletak di Yogyakarta :
Candi Abang, Candi Banyuniba, Candi Barong, Candi Gebang, Candi Ijo, Candi Kalasan, Candi Kedulan, Candi Ratu Baka, Candi Sambisari, Candi Sari

oleh: Priyo Sularso

Wednesday, June 10, 2015

candi di jawa tengah dan sejarahnya

Cinta Indonesia - Pada abad ke-7 sampai dengan awal abad ke-8, di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan Hindu bernama Kalingga. Pada akhir paruh pertama abad ke-8, diperkirakan th. 732 M, Raja Sanjaya mengubah nama Kalingga menjadi Mataram. Selanjutnya Mataram diperintah oleh keturunan Sanjaya (Wangsa Sanjaya). Selama masa pemerintahan Raja Sanjaya, diperkirakan telah dibangun candi-candi Syiwa di pegunungan Dieng. Pada akhir masa pemerintahan Raja Sanjaya, datanglah Raja Syailendra yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya (di Palembang) yang berhasil menguasai wilayah selatan di Jawa Tengah. Kekuasaan Mataram Hindu terdesak ke wilayah utara Jawa Tengah.

Pemerintahan Raja Syailendra yang beragama Buddha ini dilanjutkan oleh keturunannya, Wangsa Syailendra. Dengan demikian, selama kurang lebih satu abad, yaitu tahun 750-850 M, Jawa Tengah dikuasai oleh dua pemerintahan, yaitu pemerintahan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana. Pada masa inilah sebagian besar candi di Jawa Tengah dibangun. Oleh karena itu, candi-candi di Jawa Tengah bagian Utara pada umumnya adalah candi-candi Hindu, sedangkan di wilayah selatan adalah candi-candi Buddha. Kedua Wangsa yang berkuasa di Jawa Tengah tersebut akhirnya dipersatukan melalui pernikahan Rakai Pikatan (838 - 851 M) dengan Pramodawardhani, Putra Maharaja Samarattungga dari Wangsa Syailendra.

Candi-Barabudhur-JaTeng.png


Candi di Jawa Tengah umumnya menghadap ke Timur, dibangun menggunakan batu andesit. Bangunan candi umumnya bertubuh tambun dan terletak di tengah pelataran. Di antara kaki dan tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar, yang berfungsi sebagai tempat melakukan ‘pradaksina’ . Di atas ambang pintu ruangan dan relung terdapat hiasan kepala Kala (Kalamakara) tanpa rahang bawah. Bentuk atap candi di Jawa tengah umumnya melebar dengan puncak berbentuk ratna atau stupa. Keterulangan bentuk pada atap tampak dengan jelas.

Di samping letak dan bentuk bangunannya, candi Jawa tengah mempunyai ciri khas dalam hal reliefnya, yaitu pahatannya dalam, objek dalam relief digambarkan secara naturalis dengan tokoh yang mengadap ke depan. Batas antara satu adegan dengan adegan lain tidak tampak nyata dan terdapat bidang yang dibiarkan kosong. Pohon Kalpataru yang dianggap sebagai pohon suci yang tumbuh ke luar dari objek berbentuk bulat banyak didapati di candi-candi Jawa tengah.

Candi-Candi yang terdapat di Jawa tengah, Yaitu :
Candi Asu Sengi, Candi Barabudhur, Candi Bubrah, Candi Cetha, Candi Dieng, Candi Gedongsanga, Candi Klero, Candi Lumbung, Candi Mendut, Candi Ngawen, Candi Ngempon, Candi Pawon, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Pringapus, Candi Sajiwan, Candi Selogriyo, Candi Sewu, Candi Sukuh.

candi di jawa barat dan sejarahnya

Cinta Indonesia- Sejarah sebuah candi di Indonesia tidak terlepas dari sejarah sebuah kerajaan, karena pembangunan candi pada masa lalu adalah atas perintah seorang raja atau kepala pemerintahan yang menguasai wilayah tempat candi tersebut berada.
Berabad-abad lamanya, sejak masa penjajahan Belanda, hampir tidak ada bangunan peninggalan kuno yang ditemukan di Jawa Barat. Peninggalan masa lalu yang dijadikan pijakan dalam upaya menjelaskan secara runtut sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Barat, khususnya kerajaan Hindu dan Buddha, selama ini berupa prasasti yang ditemukan di beberapa tempat serta kitab-kitab kuno, seperti Pustaka Jawadwipa, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, dan Chu-fan-chi karangan Chau Ju-kua (1178-1225) yang merupakan catatan (buku) Cina yang memuat uraian tentang Sunda.

Salah satu dari prasati tersebut adalah Prasasti Juru Pangambat atau Prasasti Pasir Muara (458 Saka atau 536 M) ditemukan di Pasir Muara, Bogor menerangkan tentang pengembalian pemerintahan negara kepada Raja Sunda. Prasasti lainnya adalah Prasasti Telapak Gajah peninggalan Raja Purnawarman yang juga ditemukan di Pasir Muara, yang memuat gambar telapak gajah dan keterangan yang menjelaskan sepasang jejak telapak kaki tersebut adalah milik gajah kepunyaan penguasa Tarumanagara.

candi cangkuang

Prasasti Ciaruteun ditemukan di S. Ciaruteun, sekitar 100 m dari muara S. Cirateun ke S. Cisadane dan berjarak beberapa ratus meter dari tempat ditemukannya Prasasti Juru Pangambat. Prasasti Ciaruteun memuat gambar jejak sepasang kaki dan tulisan berbahasa Sansekerta dalam huruf Palawa yang menerangkan bahwa jejak telapak kaki tersebut milik Raja Purnawarman yang menguasai Tarumanagara. Menurut informasi yang dimuat dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raja Purnawarman memerintah Tarumanegara pada tahun 395-434 M. Prasasti Kebon Kopi (942 M) ditemukan di bekas perkebunan kopi milik Jonathan Rig di Ciampea, juga tidak jauh dari ditemukannya Prasasti Juru Pangambat. Sebuah prasasti juga ditemukan di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Prasasti ini juga memuat gambar sepasang telapak kaki dan keterangan bahwa telapak kaki tersebut milik Raja Purnawarman yang memerintah Taruma. Masih banyak prasasti lain yang dapat dijadikan sumber informasi mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa barat, seperti Prasasti Citatih (Cibadak, 1030 M), Prasasti Cidanghiang (Lebak) dan Prasasti Jambu (Nanggung; sebelah barat Bogor).

Berdasarkan keterangan dalam prasasti dan kitab-kitab yang ada, dapat diketahui bahwa Kerajaan Taruma didirikan Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Sang raja wafat tahun 382 dan digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382 - 395 M). Raja Tarumanegara berikutnya adalah Purnawarman (395 - 434 M), yang membangun ibukota kerajaan baru, Sundapura, pada tahun 397 M. Kerajaan Tarumanagara hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Raja Tarumanagara terakhir, Linggawarman, digantikan oleh menantunya pada tahun 669 M.

Prasasti Juru Pangambat yang menerangkan pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda dibuat tahun 536 M, yaitu pada masa pemerintahan Suryawarman (535 - 561 M), Raja Tarumanagara ke-7. Dalam Pustaka Jawadwipa disebutkan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515 - 535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara, seperti halnya penyerahan kembali kekuasaan oleh Suryawarman. Pengembalian kekuasaan tersebut merupakan petunjuk bahwa Sundapura, yang semula merupakan ibu kota Tarumanagara, telah berubah status menjadi sebuah kerajaan. Dengan demikian, pusat pemerintahan Tarumanagara mengalami perpindahan ke tempat lain.

Pada tahun 670 M, Tarumanagara terpecah menjadi dua kerajaan yang dibatasi oleh S. Citarum, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Raja-raja yang memerintah di Kerajaan Sunda merupakan keturunan Maharaja Tarusbawa, menantu Raja Linggawarman. Raja Tarusbawa, yang memerintah Kerajaan Sunda sampai dengan tahun 723 M, mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat Hulu Cipakancilan.

Pada tahun 732 M. Raja Tarusbawa digantikan Raja Sunda II yang bergelar Prabu Harisdarma. Raja Sunda II yang juga menantu Raja Tarusbawa kemudian menaklukkan Kerajaan Galuh dan lebih dikenal dengan nama Raja Sanjaya. Sebagai ahli waris Kalingga ia kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Mataram Hindu, di Jawa Tengah, pada tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya, Rakai Panaraban. Putra Raja Sanjaya yang lain, Rakai Panangkaran, mewarisi kekuasaan di Kerajaan Mataram Hindu.

Baru sekitar tigapuluh tahun terakhir ini ditemukan beberapa situs sejarah berupa reruntuhan bangunan kuno di beberapa tempat di Jawa Barat. Temuan-temuan tersebut di antaranya adalah: Candi Bojongmenje di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung (ditemukan pada 18 Agustus 2002); Candi Candi Ronggeng atau Candi Pamarican di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis (ditemukan tahun 1977); Kompleks candi Batujaya di Kecamatan Batujaya dan di Cibuaya Kabupaten Karawang; serta Candi Cangkuang di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Walaupun sejauh ini belum dapat dipastikan kapan dan oleh siapa candi-candi tersebut dibangun, namun penemuan reruntuhan bangunan kuno tersebut merupakan fakta baru yang dapat digunakan untuk mengungkap sejarah kerajaan di wilayah Jawa Barat.

Tuesday, June 9, 2015

10 candi luar biasa di indonesia

CINTA INDONESIA - Kata "candi" mengacu pada berbagai macam bentuk dan fungsi bangunan, antara lain empat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14.

Sebenarnya ada banyak candi di Indonesia, namun kesepuluh candi ini paling terkenal, apa saja

1. Candi Prambanan

candi-2-prambanan.jpg


Candi Prambanan salah satu candi yang terbesar agama Hindu. terletak di 13km arah Klaten, dan 17km dari arah Yogyakarta. Kompleks Candi Prambanan mempunyai 3 halaman, yaitu halaman pertama berdenah bujur sangkar, merupakan halaman paling suci karena halaman tersebut terdapat 3 candi utama (Siwa, Wisnu, Brahma), 3 candi perwara, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi sudut/patok. Halaman kedua juga berdenah bujur sangkar, letaknya lebih rendah dari halaman pertama. Pada halaman ini terdapat 224 buah candi perwara yang disusun atas 4 deret dengan perbandingan jumlah 68, 60, 52, dan 44 candi. Susunan demikian membentuk susunan yang konsentris menuju halaman pusat.

2. Candi Borobudur

candi-1-borobudur.jpg


Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan Candi Boroubudur, dimana candi pernah masuk sebagai 7 keajaiban dunia. Candi yang dibangun pada masa kerajaan dinasti Syeilendra. Terletak di desa bernama Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Kita bisa ke desa Borobudur dari Yogyakarta menggunakan kendaraan dengan jarak tempu sekitar 1 jam. Candi ini disusun dengan menggunakan balok batu beserta design arsitektur yang luar biasa megah, susunan relief atau patung-patung yang mengelilingi candi. Candi termasuk candi Budha terbesar di dunia.

3. Candi Mendut

candi-3-mendut.jpg


Candi Mendut terletak 3km dari arah borobudur, candi yang berlatarbelakang agama Budha ini terletak di desa mendut. Candi mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syeleindra. Dibangun pada tahun 824 Masehi. Candi ini lebih tua dari Candi Borobudur. Arsitekturnya persegi empat dan mempunyai pintu masuk di atas tangganya. Atapnya juga persegi empat dan bertingkat-tingkat, ada stupa di atasnya. didalam candi mendut terdapat 3 patung besar :
  1. Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma.
  2. Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia
  3. Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya, Vajrapani. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan.
  4. Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan

Ada cerita untuk anak-anak pada dinding-dindingnya. Candi ini sering dipergunakan untuk merayakan upacara Waisak setiap Mei pada malam bulan purnama dan dikunjungi para peziarah dari Indonesia maupun manca negara.

4. Candi Muara Takus

candi-4-muara-takus.jpg


candi yang berada di daerah Riau Sumatra Barat, candi agama Budha ini tepatnya terletak di daerah muara takus Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, Riau. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan. Umat Budha setempat bersembahyang rutin di candi itu. Sejak beberapa tahun belakang ini, candi tersebut dijadikan sebagai lokasi upacara peringatan hari suci Waisak. Masyarakat non-Budha, termasuk dari luar Provinsi Riau, banyak yang berwisata ke candi ini. Gugusan candi dikelilingi tembok setinggi satu meter seluas berukuran 74 x 74 meter. Setelah masuk ke kompleks candi, segera nampak keunikan lainnya. Candi-candi di sana, seperti juga candi di Muaro Jambi dan di kawasan Padanglawas Utara, Sumatera Utara, dibangun dengan batu bata merah, bukan batu andesit seperti kebanyakan candi di Jawa.

5. Candi Sewu

candi-5-sewu.jpg


Candi Sewu merupakan candi budha yang berada dalam kompleks candi prambanan. Candi Sewu di bangun pada saat masa kerjaan Matraman Kuno oleh Raja Pakai Panangkarang (746 – 784). Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur. Menurut legenda rakyat setempat, seluruh candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama, Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam saja, sebagai prasyarat untuk bisa memperistri dewi Roro Jonggrang. Namun keinginannya itu gagal karena pada saat fajar menyingsing, jumlahnya masih kurang satu.

6. Candi Brahu

candi-6-brahu.jpg


Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Brahu merupakan lokasi Ngaben (pembakaran mayat) era kerjaan Majapahit. Nama Brahu di dapat dari sebutan untuk bangunan suci seperti disebutkan dalam prasasti Alasantan, yang tidak jauh ditemukan dari candi brahu. Candi Brahu dibangun dengan menggunakan batu bata sebagai bahan utamanya, dengan panjang sekitar 18 meter, lebar 22,5 meter, dan tinggi 20 meter. Dari pintu masuk ke ruang bilik Candi yang terletak di sisi barat dapatlah diketahui bahwa Candi Brahu menghadap Kearah barat. Di sekitar Candi Brahu banyak terdapat temuan Candi-candi kecil yang sebagian sudah runtuh, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar Candi, banyak ditemukan benda-benda kuno seperti alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca, dan lainnya.

7. Candi Banyunibo

candi-7-banyunibo.jpg


Candi Banyunibo yang berarti air jatuh, adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah timur dari kota Yogyakarta ke arah kota Wonosari. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha. Keadaan dari candi ini terlihat masih cukup kokoh dan utuh dengan ukiran relief kala-makara dan bentuk relief lainnya yang masih nampak sangat jelas. Candi yang mempunyai bagian ruangan tengah ini pertama kali ditemukan dan diperbaiki kembali pada tahun 1940-an, dan sekarang berada di tengah wilayah persawahan.

8. Candi Ngawen

candi-8-ngawen.jpg


Candi Ngawen adalah candi Buddha yang berada kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Magelang. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah yang tersebut dalam prasasti Karang Tengah pada tahun 824 M. Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.

9. Candi Lumbung

Candi-9-Lumbung.jpg


candi lumbung Disebut Candi Lumbung karena bentuk candi ini menyerupai lumbung padi. Berbeda dengan Candi Prambanan yang merupakan Candi Hindu, Candi Lumbung ini merupakan candi Budha. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi Lumbung terdiri dari sebuah candi induk yang dikelilingi oleh 16 buah candi kecil (Candi Perwara) yang keadaannya masih relatif baik. Adalah candi yang berada di dalam kompleks Taman wisata Candi Prambanan, tepatnya berada di sebelah Candi Bubrah. Jaraknya dari Candi Prambanan adalah sekitar 500 meter ke arah utara. Dari Kota Klaten jaraknya kurang lebih 15 km ke arah barat.

10. Candi Cetho

candi-10-cetho.jpg


Candi Cetho merupakan sebuah candi bercorak agama hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke 15). Candi Cetho terletak di dukuh cetho, desa gumeng, kecamatan jenawi, kabupaten karanganyar. Konon nama Cetho, yang dalam bahasa Jawa berarti jelas, digunakan sebagai nama dusun tempat candi ini berada karena dari Dusun Cetho orang dapat dengan jelas ke berbagai arah. Ke arah utara terlihat pemandangan Karanganyar dan Kota Solo dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Merapi serta, lebih jauh lagi, puncak Gunung Sumbing. Ke arah barat dan timur terlihat bukit-bukit hijau membentang, sedangkan ke arah selatan terlihat punggung dan anak-anak Gunung lawu. Candi Cetho merupakan kelompok bangunan yang terdiri atas 11 berundak yang membentang arah timur – barat.

Monday, June 8, 2015

inilah ketujuh tempat di indonesia diakui sebagai keajaiban dunia

Tujuh tempat di Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO World Heritage Committee masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia (The World Heritage Sites). UNESCO (UNESCO’s World Heritage Sites) adalah sebuah tempat khusus (misalnya hutan, pegunungan, danau, gurun pasir, bangunan, kompleks, atau kota) yang telah dinominasikan untuk program Warisan Dunia internasional yang dikelola UNESCO World Heritage Committee, Sebuah Situs Warisan Dunia adalah suatu tempat atau budaya atau benda yang berarti.

Ketujuh tempat di Indonesia yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia tersebut meliputi 4 situs alam dan 3 situs budaya. Keempat situs alam yang termasuk Situs Warisan Dunia (World Heritage) meliputi Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Lorentz, dan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera. Sedangkan 3 situs budaya di Indonesia yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia meliputi Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Situs Manusia Purba Sangiran.

Indonesia_in-the-world.jpg

1. Candi Borobudur (Borobudur Temple Compounds)
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga Hanyu Pinyin (pó luó fú tú) dalam bahasa Mandarin.

Candi Borobudur Indonesia, ditetapkan sebagai Warisan Dunia (Situs Budaya) pada tahun 1991. Merupakan candi Budha yang berasal dari abad ke-8 dan 9. Candi ini tersusun dalam tiga tingkatan yang meliputi dasar piramida dengan lima teras persegi konsentris, batang kerucut dengan tiga platform sirkular dan, dan sebuah stupa besar di bagian atas. Dinding candi dihiasi dengan relief yang luasnya mencapai 2.500 m 2.. Candi Borobudur ditemukan pertama kali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles. Candi ini sudah mulai dipugar pada masa Hindia dan pada tahun 1970-an dipugar total dengan melibatkan UNESCO.

borobudur.png


2. Candi Prambanan (Prambanan Temple Compounds)
Candi Prambanan, DI. Yogyakarta, Indonesia ditetapkan sebagai Warisan Dunia (Situs Budaya) pada tahun 1991. Candi yang dibangun pada abad ke-10 ini adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara yang ditemukan pertama kali oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda pada tahun 1733. Candi ini terdiri atas 8 candi utama dan lebih dari 250 candi kecil. Tiga candi utama disebut Trisakti merupakan persembahan kepada tiga dewa Hindu yaitu Siwa (sang Penghancur), Wisnu (sang Pemelihara) dan Brahma (sang Pencipta).

prambanan.png


3. Taman Nasional Komodo (Komodo National Park)
Taman Nasional Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, Indonesia, ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia (Situs Alami) pada tahun 1991. Taman Nasional Komodo merupakan sebuah kawasan yang terdiri atas pulau-pulau vulkanik yang terdiri atas 3 pulau besar (Komodo, Rinca, dan Padar) seluas 603 km2 (luas daratan). Di kawasan yang ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1980 ini dihuni oleh Biawak terbesar, biawak komodo. Taman Nasional Komodo saat ini juga menjadi finalis New 7 Wonders of Nature.

Komodo.jpg


4. Taman Nasional Ujung Kulon (Ujung Kulon National Park)
Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten dan Lampung, Indonesia, ditetapkan oleh UNESCO sevagai Situs Warisan Dunia (Situs Alam) pada tahun 1991. Taman Nasional Ujung Kulon seluas 1,203 km² konon merupakan daerah pertanian yang kemudian hancur lebur dan musnah penduduknya ketika gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883 yang kemudian merubah kawasan ini menjadi hutan. Taman Nasional ini menjadi habitat berbagai satwa dan flora termasuk badak jawa yang merupakan mamalia terlangka di dunia. Di kawasan ini juga menjadi habitat alami kokoleceran, tumbuhan yang menjadi maskot provinsi Banten.

Ujungkulon.jpg


5. Taman Nasional Lorentz (Lorentz National Park)
Taman Nasional Lorentz adalah sebuah taman nasional yang terletak di provinsi Papua, Indonesia. Dengan luas wilayah sebesar 25.000 km² Lorentz merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara. Taman ini masih belum dipetakan, dijelajahi dan banyak terdapat tanaman asli, hewan dan budaya. Pada 1999 taman nasional ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.Wilayahnya juga terdapat persediaan mineral, dan operasi pertambangan berskala besar juga aktif di sekitar taman nasional ini. Ada juga Proyek Konservasi Taman Nasional Lorentzyang terdiri dari sebuah inisiatif masyarakat untuk konservasi komunal dan ekologi warisan yang berada di sekitar Taman Nasional Loretz ini.

Dari tahun 2003 hingga kini, WWF-Indonesia Region Sahul Papua sedang melakukan pemetaan wilayah adat dalam kawasan Taman Nasional Lorentz. Tahun 2003- 2006, WWF telah melakukan pemetaan di Wilayah Taman Nasional Lorentz yang berada di Distrik (Kecamatan) Kurima Kabupaten Yahukimo, dan Tahun 2006-2007 ini pemetaan dilakukan di Distrik Sawaerma Kabupaten Asmat.Taman Nasional Larentz, provinsi Papua, Indonesia, ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia (Situs Alam) pada tahun 1999. Taman Nasional seluas 2,5 juta ha (25.000 km²) ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Terletak di titik pertemuan dua lempeng benua, Taman Nasional Lorentz menjadi daerah yang memiliki geologi kompleks dengan pembentukan gunung serta patung besar dengan glasiasi dan akresi pantai yang telah membentuk sebagian besar daerah dataran rendah. Proses-proses ini membuat kawasan ini memiliki tingkat endemisme dan keanekaragaman hayati tertinggi. Daerah ini juga mengandung situs fosil yang merekam evolusi kehidupan di Papua dan New Guinea.

taman-lorenz.png


6. Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra)
Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera adalah tempat pelestarian bagi Hutan Hujan Tropis di Sumatera dan habitat dari beberapa spesies yang hampir punah seperti, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, dan Badak Sumatera yang merupakan spesies Badak terkecil dan memiliki dua cula. Luas dari Hutan Hujan Tropis Sumatera seluruhnya adalah 2,5 juta hektar yang terdiri dari 3 Taman Nasional di Sumatera, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Tempat ini juga tempat berbagai jenis tumbuhan endemik seperti, kantong semar, bunga terbesar di dunia Rafflesia Arnoldi, dan bunga tertinggi Amorphophallus. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan hujan tropis Sumatera juga merupakan sumber mata pencarian bagi masyarakat yang tinggal di sana. Beberapa suku tinggal di hutan hujan tropis Sumatera, seperti suku Mentawai dan suku Anak Dalam. Pada tahun 2004 ini merupakan 2,5 juta hektar Hutan Hujan Tropis di Sumatera yang terdiri dari tiga taman nasional, yaitu: Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan merupakan habitat bagi sekitar 10.000 spesies tanaman, termasuk 17 marga endemik, lebih dari 200 spesies mamalia, dan jenis burung dari 580 ( 21 endemik). Beberapa tumbuhan endemik seperti rafflesia arnoldi dan amorphophallus titanium. Juga satwa-satwa lainnya seperti harimau sumatera dan gajah sumatera.

Hutan_hujan_Tropis_Sumatera.jpg


7. Situs Manusia Purba Sangiran (Sangiran Early Man Site)
Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Area ini memiliki luas 48 km² dan terletak di Jawa Tengah, 15 kilometer sebelah utara Surakarta di lembah Sungai Bengawan Solo dan terletak di kaki gunung Lawu. Secara administratif Sangiran terletak di kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus(“Manusia Jawa”).

Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut. Di Museum Sangiran, yang terletak di wilayah ini juga, dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.

Sangiran, kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia, ditetapkan sebagai Warisan dunia (Situs Budaya) pada 1996. Dari kawasan seluas 48 km² tersebut sejak tahun 1934 telah ditemukan belasan ribu fosil yang salah satunya adalah Pithecanthropus erectus dan Meganthropus palaeojavanicus.

situs-sangiran.jpg


Sumber : https://id.wikipedia.org

Sunday, June 7, 2015

dari tandus dan kering taman baluran menyimpan kekayaan alam luar biasa

Kawasan Taman Nasional Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Batas wilayah sebelah utara adalah Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, dan di tengah kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi. Namun menjadi pemandangan yang cantik ketika kita melihat padang savana dari kejauhan.
Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Untuk Anda pencinta fotografi sebaiknya datang ke sini pada saat musim kemarau, pada bulan Juni-Juli-Agustus karena air di hutan kering, dan rumput berwarna kuning.

Nama Baluran untuk taman nasional ini diambil dari gunung yang berada di kawasan ini yaitu gunung Baluran. Taman Nasional ini memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan dan di antaranya merupakan tumbuhan asli yang khas dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering. Sedangkan untuk satwa, terdapat 26 jenis satwa yang tinggal di di kawasan ini, diantaranya banteng yang merupakan ikon dari taman nasional ini, kerbau liar, kijang, rusa, macan tutul, kancil dan kucing bakau. Selain itu, juga terdapat 155 spesies burung yang hidup di kawasan ini.
Taman Nasional Baluran memiliki beberapa pos pengamatan yang bisa dikunjungi dan memiliki keistimewaan sebagai sub obyek wisata di dalam Baluran. Seperti: Batangan; di sini terdapat goa peninggalan masa kolonial Jepang, makam putri Maulana Malik Ibrahim dan pengunjung juga bisa melihat atraksi tarian burung merak di saat musim kawin.

Pada musim kering, satwa seperti rusa, banteng, burung merak yang berada di dalam hutan keluar menuju savana. Pihak Taman Nasional menyediakan air dan kubangan, sehingga pada musim kemarau hewan keluar dan berada dekat di jalan. Satwa-satwa ini sangat pemalu, karena jika ada mobil yang mendekat saja mereka akan kabur masuk ke dalam hutan.

taman-baluran-rusa.jpg


Jika Anda datang saat musim hujan maka tumbuhan dan air sangat berlimpah sehingga penghuni taman seperti banteng dan kerbau liar memilih masuk ke pedalaman taman dari pada bertatap muka dengan pengunjung. Agar bisa lebih menikmati perjalanan di Taman Nasional Baluran cobalah sebelum memasuki kawasan ini Anda mengunjungi pusat informasi untuk mendapat penjelasan singkat tentang Taman Nasional Baluran. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar biasanya kita bisa lebih menghargai, tidak mengganggu, merusak, mengambil, atau berburu flora, fauna dan ekosistemnya.

Di sini ada Pantai Bama yang merupakan spot untuk melihat sunrise, di sekitar Pantai Bama juga ada banyak pohon mangrove dan kawasan konservasi. Di Pantai Bama kita bisa menyewa perahu untuk berkeliling Taman Nasional. Selain itu disini juga merupakan spot snorkeling yang cukup bagus, tetapi Anda harus agak ke tengah sedikit dan bisa melihat banyak ikan dan biota laut.

Setelah itu kita bisa melanjutkan perjalanan menyusuri Padang Savana sepanjang Taman Nasional. Kalau ingin maksimal melihat satwa-satwa yang ada di sini lebih baik Anda berjalan kaki, karena satwa-satwa di sini sangat takut dengan manusia. Mendengar suara mesin mobil atau motor saja satwa-satwa tersebut langsung kabur masuk ke dalam hutan.

kuncinya adalah datang pagi-pagi sekali ke Taman Nasional Baluran ini, pada pagi hari matahari terbit (sunrise) di Taman Nasional Baluran sangat bagus, pada pagi hari juga banyak sekali satwa yang keluar. banteng jawa, burung merak yang bergerombol, bahkan burung-burung merak ini terbang bebas di alam liar.

taman-baluran.jpg


Sumber: http://travel.kompas.com/read/2014/05/19/1546431/Taman.Nasional.Baluran.Inilah.Afrikanya.Indonesia.